Budayakan RISET Daripada Studi Banding
Oleh : Anton Hilman, S.SiWarga Sumberjaya, Alumni FMIPA KIMIA Unila
Kejarfakta.com, Lambar-- Mengapa pemkab lebih baik mengutamakan dan membudayakan riset daripada studi banding?
Berikut adalah pertimbangannya :
Pertama, riset itu lebih konstektual masalah Lambar dan hasilnya lebih berkualitas dan komprehensif daripada studi banding.
Ketika studi banding karena waktu yang singkat dan SDM yg memgikutinya pun terkadang bukan kompetensinya, sehingga kurang maksimal dalam melihat mengamati, menyerap dan menganalisa ketika studi banding.
Dikuatirkan, karena seperti itu prosesnya, hasil yang didapat pun hanya kulitnya saja. Kurang mendalam. Sehingga ketika diterapkan, tidak cocok atau gagal karna ada faktor lain yg tidak teramati yang merupakan dasar yg harus disiapkan terlebih dahulu sebelum program diterapkan.
Kedua, biaya riset pun tidak terlalu mahal. Bisa kita bandingkan rombongan yg studi banding, kelain pulau, naik pesawat terbang, menginap dihotel mewah. "Jangan-jangan biaya untuk sewa hotel dan tiket pesawat saja lebih mahal dari biaya riset".
Ketiga, riset harus dibudayakan karena lebih ilmiah, terukur dan lebih jelas hasilnya daripada studi banding.
Yang melakukan riset adalah para ahli, tentu bisa bersama pemkab dan masyarakat Lambar. Objeknya adalah persoalan yang menjadi kendala hambatan di Lambar. Misalnya kendala di kopi apa yang harus dijadikan bahan risetnya, apakah budidaya, pengolahan pemasaran atau lainnya. Begitu juga dengan persoalan lainnya.
Keempat, dengan riset ini akan mengangkat derajat dan nama besar Lambar.
Setelah riset dilakukan, dilanjutkan dengan aplikasi hasil riset. Ketika hasilnya bagus membawa perubahan, ini akan membesarkan nama Lambar.
"Sudah jauh2 studi banding, biaya mahal, yg dibesarkan kabupaten lain, dan kesannya kita tidak punya inovasi, bisanya nyontek dari kabupaten lain".
Alasan yang kelima adalah riset ini bisa menjadi dokumen pendukung perencanaan pembangunan dengan pendekatan teknokratik. Dan dapat menjadi dokumen yg sangat pentinf dan terpercaya ketika akan melakukan atau menawarkan kerjasama dengan pihak lain.
Semakin bagus dan lengkap dokumen pendukung pembangunan yang sifatnya ilmiah, kajian ini akan semakin objektif dan terukurnya hasil yang akan dicapai. Resiko kegagalan atau peluang keberhasilan bisa lebih terukur.
Keinginan kita semua, Pemerintahan ini dari tahun ke tahun agar terlihat dan terasa semakin baik, apalagi saat ini slogannya adalah menuju Lambar Hebat dan Sejahtera.
Studi banding sudah sering dilakukan. Bahkan semua OPD mungkin sdah melakukan studi banding. Saatnya sekarang memperdalam hasil studi banding tersebut dengan riset. Sehingga hasil studi banding yang sudah dilskukan tidak sia-sia.
Semoga ini bisa terealisasi. Riset menjadi budaya bagi pemkab sebagai bagian dari proses penyusunan dan pengambilan kebijakan.
Yang ke enam, mengapa riset lebih diutamakan adalah dari segi efisiensi dan efektifitas program, riset ini lebih baik dari studi banding. Dalam melakukan riset dasarnya adalah kompetensi. Sedangkan studibanding itu didasari karena jabatan tanpa memperdulikan kompetensi atau latar belakang pendidikan.
Pemkab memang bukan perguruan tinggi. Tetapi tradisi ilmiah perlu juga menjiwai pemerintahan.
Tradisi ilmiah itu diantaranya seperti bekerja berdasarkan konsep/ilmu pengetahuan; mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektiif dan proporsional; bekerja secara sistematis dan teratur; kreatif dan inovatif.
Mari kita nantikan, kita saksikan, dan kita dukung program-program dari bupati muda, Parosil Mabsus. Seperti apakah konsep Kabupaten konservasi, kabupaten literasi dan kabupaten tanggap bencana ini.
Riset yang mendalam, dukungan data dan hasil analisa yang bagus serta birokrasi pemerintahan yang handal, ini dapat menjadi dasar yang kuat untuk memetakan jalan menuju Lambar Hebat dan Sejahtera. Semoga. (*)




No comments