• Breaking News

    Menjelang Lebaran Sebagian Petani Sayur Lambar Mengeluh

    Cabe salah satu komoditas andalan Di alambar Justru Harga jualnya Menurun

    Kejarfakta.com, Lambar - Sebagian warga Kabupaten Lampung Barat (Lambar), yang kesehariannya berprofesi sebagai petani palawija mengeluh. 

    Hal tersebutkan disebabkan, dikala kebutuhan hidup semakin meningkat utamanya , menjelang menjelang lebaran namun, harga sayur mayur justru turus drastis.

    Saat ini komoditas yang nilai jualnya turun drastis antaralain cabe rawit, sawi, tomat dan sebagainya. Harga komuditas yang turun dan dikeluhkan petani seperti harga cabe merah yang semula memiliki nilai jual yang setabil dengan harga Rp 25-30 ribu per kilo saat ini hanya rp 18 ribu saja perkilonya, selain cabe jenis sayuran lain seperti sawi hijau yang semula mencapai Rp300 perkilo nya saat ini tinggal Rp700 rupiah saja perkilonya. Selain itu komuditas lain yang nilai jualnya turun adalah Tomat yang semula mencapai Rp7 ribu perkilo saat ini hanya dihargai Rp 1500 perkilonya.

    Demikian dijelaskan salah seorang petani palawija, yang enggan disebitkan namanya di Lingkungan serdang Kelurahan Waymengaku Kecamatan Balikbukit Lambar, ketika dikonfirmasi Kejarfakta.com minggu 3/6/2018. 

    Selain Cabe Tomat Petani Tomat Juga Mengalami Nasib Yang Sama

    “Bagaimana bisa buat makan modal saja tidak kembali belum lagi ini menjelang lebaran,” keluhnya.

    Ditambahkanya, Untuk biaya perawatan tanaman itu para petani harus menggunakan uang tabungan. 

    “Karna pada dasarnya sayur tidak dapat ditahan dikala waktunya panen tidak dipanen maka sayur akan membusuk,” imbuhnya.

    Lebih lanjut dikatakannya, penyebab harga sayur-mayur tersebut menurun drastis antaralain, dikarenakan stok yang melimpah sementara permintaan pasar menurun.

    Nilai Jual sawi Hijaupun Mengalami Penurunan

    Persoalanya, dengan kondisi tersebut justru pemerintah terkait dalam hal ini pihak Dinas Pertanian terkesan kurang memperhatikan keadaan para petani yang mangais rezeki melalui tanaman hijau itu.

    Meski digembar-gemborkan dalam program daerah utamakan kesejahteraan petani, akan tetapi buktinyata di lapangan justru petani berdikari sendiri, dengan mencari pasar sendiri dan hingga saat ini pemerintah tidak menyiapkan pasar atau penampung yang mampu mensetabilkan nilai jual hasil pertasnian dilambar maka jalan satu-satunya para petani hanya menjual hasil panen kepada tengkulak yang dapat seenaknya mempermainkan harga. 

    “Petani taunya kita itu hanya menanam masalah harga kita pasrah”,ungkapnya.

    Reporter     :     Kartiko
    Editor          :     Ahsannuri

    No comments

    Post Top Ad