MUI Himbau Khatib Idul Fitri Hindari Khutbah Politik Praktis Yang Dapat Timbulkan Perpecahan
Foto. Ist
Kejarfakta.com, Jakarta--Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin
mengimbau para khatib yang akan menyampaikan khutbah pada Shalat Idul Fitri
1439 H untuk menghindari politik praktis.
"Kami
mengimbau para khatib Shalat Idul Fitri untuk menghindari isi khotbah yang bermuatan
politik praktis yang bisa menimbulkan perpecahan pada Umat Islam. Jangan
dijadikan ajang untuk kampanye," ujar Ma'ruf dalam konferensi pers di
Jakarta, Selasa (12/6)
Dikutip Dari Sumber Berita Republika.co.id, MUI mengimbau, para khatib untuk
menyampaikan pesan peningkatan keimanan dan ketaqwaan, persaudaraan dan
kedamaian kepada para jemaah. Selain itu, khatib diharapkan menyampaikan pesan
untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya terorisme, narkoba, minuman
keras, perilaku seks menyimpang atau LGBT, dan segala bentuk perbuatan mungkar
lainnya.
Selain itu, umat Islam juga diminta untuk memanjatkan doa bagi seluruh
Muslim di dalam maupun luar negeri, khususnya di Palestina, Rohingya, Kashmir,
dan Suriah, yang mengalami penderitaan dan tragedi kemanusiaan.
Dalam kesempatan itu, MUI juga mengajak seluruh Muslim di Tanah Air, untuk
menjadikan Idul Fitri sebagai momentum menjaga kohesi sosial, menjaga
perdamaian, memperkuat dan memperkokoh kembali ikatan dan hubungan antarsesama
saudara seagama, sebangsa dan sesama manusia.
"Perbedaan aspirasi politik merupakan hal biasa yang harusnya
dipandang sebagai rahmat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bukan
menjadi penyebab terjadinya saling marah, salah paham, mencerca, dan caci
maki," kata dia.
Ma'ruf juga meminta, kepada pemerintah dan pihak kepolisian agar dapat
menjadi keamanan dan kenyamanan umat Islam dalam merayakan Hari Raya Idul
Fitri, malam takbiran maupun pada saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri di
lapangan, masjid, surau atau tempat lainnya.
"Kami mengingatkan kepada masyarakat, khususnya saat menggunakan media
sosial untuk tidak menyebarkan informasi yang berisi kebohongan, fitnah , aib,
ujaran kebencian, dan sebagainya," ujar Kiai Ma'ruf. (*)





No comments