Pengemudi Di Harapkan Waspadai Ratusan Pengemis di Indramayu
Foto Ilustrasi
Kejarfakta.com, Nasional--
Pengemudi yang melintas di Jembatan Kali Sewo, perbatasan antara Indramayu dan
Kabupaten Subang di Jalur Pantura Jawa Barat agar berhati-hati. Pasalnya mereka
akan berhadapan dengan ratusan pengemis yang berjejer di sekitar jembatan itu.
Dikutip
Dari Pemberitaan Republika.co.id, Saat melintas di daerah itu pada Jumat (22/6)
dini hari, ratusan pengemis yang semua memegang sapu lidi mengamati kendaraan
yang lewat, terutama mobil pribadi maupun kendaraan umum.
Pada awalnya, Antara
yang melakukan perjalanan dari Semarang menuju Jakarta, mengira bahwa
masyarakat sekitar sedang bergotong royong membersihkan jalan. Dugaan itu
muncul karena masing-masing orang memegang sapu lidi.
Mereka berdiri berjejer di
pinggir jalan sepanjang hampir 500 meter. Mereka terdiri atas anak-anak, remaja
bahkan sampai nenek-nenek. Setiap mobil yang bergerak perlahan, terutama mobil
pribadi, akan didekati sambil memberikan aba-aba meminta sesuatu.
Tapi
setelah mendekat, mereka ternyata pengemis yang meminta uang dari para pelintas
dan sapu tersebut digunakan untuk mengais uang logam yang dilemparkan oleh
penumpang dari jendela mobil.
Jika
mereka melihat tanda-tanda ada penumpang yang akan melempar uang recehan, yaitu
kendaraan yang memperlambat laju kendaraan dan membuka jendela, langsung
diserbu. Dengan sapu tersebut, mereka mengumpulkan beberapa uang koin yang
berserakan di jalan.
Kebiasaan
warga sekitar mendapatkan uang melalui para pelintas menurut Suparto (60
tahun), yang bsudah lebih lima tahun menjadikan mengemis sebagai penghasilan
sampingan itu berawal dari sebuah mitos.
Mitos tersebut bermula dari kecelakaan
maut yang menimbulkan banyak korban ketika mobil yang sarat penumpang terjun ke
sungai. Arwah korban kemudian berkeliaran dan mengganggu mereka yang melewati
jalan tersebut.
Sejak
itu, dan tidak diketahui secara pasti kapan dimulai, pengendara mobil yang akan
melewati jembatan Kali Sewo memberikan sesuatu dan biasanya dalam bentuk uang
agar tidak diganggu, aman dan bebas dari kecelakaan. Lama kelamaan, biasaan
yang hanya dilakukan segelintir orang itu berubah menjadi tradisi dan dilakukan
setiap hari, sehingga menjadi penghasilan sampingan warga sekitar yang sebagian
besar adalah petani.
Saat
musim mudik Lebaran, jumlah pengemis mencapai ratusan. Keberadaan mereka tidak
hanya siang hari, tapi hampir 24 jam. Menurut pengakuan Suparto, musim
mudik dan balik Lebaran adalah saat "panen". Karena dalam sehari
mereka bisa mengumpulkan Rp 150 ribu dari recehan. Sementara pada hari biasanya
paling banyak hanya Rp 50 ribu.
Tradisi
tersebut tampaknya sulit untuk dilarang. Meski berbahaya karena pengemis yang
terlalu sibuk menyapu uang recehan bisa tertabrak oleh kendaraan yang melintas.
Pihak
kepolisian setempat pun berusaha memaklumi tradisi yang sudah berlangsung
bertahun-tahun tahun tersebut. Polisi hanya terlihat berusaha mengatur lalu
lintas agar tertib dan tidak membahayakan warga lokal yang ikut merayakan Idul
Fitri, sambil mengais rezeki. (*)





No comments