Pilkada Bondowoso : Dominasi Dan Corak Politik Kultur
Penulis : Moh. Fajri (Ketua Umum HMI Cabang (P) Bondowoso-Situbondo)
Kejarfakta.com, Bondowoso - Tahun 2018 beberapa Daerah di Indonesia akan
menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 171 Daerah,
termasuk di Kabupaten Bondowoso. Perhelatan Pilkada Bondowoso yang akan
dilaksanakan pada 27 Juni sebentar lagi membuat tensi politik meningkat,
mengingat hanya diikuti oleh Dua Pasangan Calon (Paslon) yaitu nomor urut 1
(Drs. KH. Salwa Arifin-Irwan Bachtiar, M.Si) dan nomor urut 2 (H. Ahmad Dhafir
yang berpasangan dengan Drs. Hidayat, M.Si).
Kedua Paslon tersebut sering menyampaikan visi dan misinya
kepada masyarakat. Baik melalui media sosial (medsos), pamflet, stiker maupun
ketika kampanye. Ketatnya persaingan antara keduanya dapat kita lihat dari
aktifitas yang dilakukan belakangan ini. Keduanya berlomba-lomba mempromosikan
kebijakan dan langkah-langkah yang akan dilakukan jika terpilih.
Janji-janji politik yang terkadang dianggap usang oleh
masyarakat ternyata masih tetap menjadi salahsatu senjata guna menarik hati
pemilih. Apapun itu selagi tidak keluar dari prinsip-prinsip berdemokrasi
adalah boleh dilakukan. Terlihat anemo masyarakat Bondowoso cukup besar untuk
suksesi Pilkada ini, lebih-lebih para pendukung untuk memenangkan Paslon
dukungannya.
Sengitnya persaingan ini sudah sangat terasa sejak sebelum
Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bondowoso menetapkan dan mengumumkan
nama-nama Paslon pada tanggal 12 februari 2018. Berbagai elemen masyarakat baik
tokoh maupun organisasi semakin hari semakin banyak yang mendeklarasikan diri
mendukung salah satu dari kedua Paslon tersebut. Inilah yang menyebabkan tensi
konstelasi politik di Bondowoso semakin meningkat.
Dinamika Elektoral Parpol Di Kabupaten Bondowoso
Dukungan partai terhadap Paslon 1 (Salwa-Irwan/ SABAR jauh
tertinggal oleh Paslon 2 (Dafir-Dayat). Pasangan SABAR hanya didukung oleh tiga
PARPOL yaitu PPP dan PDIP sebagai partai pengusung serta HANURA sebagai
pendukung. Secara perhitungan (jumlah) kursi suara di DPRD Bondowoso SABAR
hanya memiliki 13 kursi (PPP 5 kursi dan PDIP 8 kursi) sedangkan HANURA, PKPI
dan Partai Garuda yang menyusul mendukungnya tidak memiliki kursi di DPRD.
Dilain pihak koalisi Dafir-Dayat jauh lebih gemuk. Koalisi
antar semua PARPOL tersisa ialah PKB 12 kursi, GOLKAR 5 kursi, PKS 5 kursi,
GERINDRA 3, PAN 1, NASDEM 3, DEMOKRAT 3. Jika hanya terpaku pada dukungan
Parpol maka peluang kemenangan Dafir-Dayat jauh lebih besar. Gemuknya Parpol
pengusung dan pendukung dengan kalkulasi total suara 32 kursi, gampangnya,
setiap Parpol hanya tinggal menginstruksikan ribuan keder dan pendukungnya
untuk memilih Paslon no 2, maka selesailah perkara.
Namun persoalan rakyat memilih tidak segampang itu,
barangkali kita masih ingat dengan pemilihan Presiden tahun 2014 antara Jokowi
dan Prabowo. Bagaimana parpol pendukung Jokowi jauh lebih ramping, namun Jokowi
keluar sebagai pemenangnya. Lagi-lagi bukan ansih masalah parpol pendukung
saja, tetapi pilihan rakyat.
Pasangan Sabar merupakan akumulasi dari dua tokoh yang
berbasis masa. Antara Salwa Arifin dan Irwan Bahtiar merupakan ikon dari parpol
masing-masing pengusung. Nama besar Salwa Arifin belum tergantikan di PPP.
Ditataran akar rumputpun demikian, selain dikenal sebagai wakil Bupati, beliau
dikenal sebagai seorang Kiai putera dari almarhur KH. Togo Ambarsari yang cukup
dikenal dan dihormati masyarakat Bondowoso. Sedang Irwan Bahtiar adalah Ketua
PDIP, pasangan yang berbasis masa.
Kebalikan dari Paslon 1, Ahmad Dhafir merupakan politisi
yang 5 kali menjabat sebagai anggota DPRD dan 3 kali diantaranya sebagai ketua.
Beliau adalah salah satu politisi senior dan cukup dikenal oleh masyarakat.
Sedang wakilnya, Drs. Hidayat bukanlah seorang politisi namun seorang Birokrat
(Sekretaris Daerah). Beliau dikenal hanya bagi kalangan birokrasi daerah.
Selain elektabilitas dan popularitas figur serta peran
partai politik, kekuatan yang paling efektif dalam mendulang perolehan suara
ialah Pondok Pesantren (Ponpes). Pengaruh Ponpes adalah salahsatu penentu
kemana arah pilihan masyarakat Bondowoso. Mayarakat terdidik di Bondowoso yang
notabane alumni Ponpes, selain kesederhanaan dan religiusitas yang kental,
sikap tawaduk terhadap guru/kiai benar-benar dijunjung tinggi. Mengingat
kiai/guru yang sudah membimbing sedari kecil tanpa memungut biaya (ikhlas).
Sikap ketawaduan santri dan masyarakat terhadap kiai ini
sangat disadari betul oleh setiap politisi. Dalam momentum Pilkada ini
masing-masing Paslon dan Tim Suksesnya (Timses) berlomba-lomba untuk merapat
dan mencari dukungan dari para kiai. Ibarat jaring ikan, kiai adalah
tali. Ditarik satu tali maka ikutlah seluruh isi didalamnya. Selain itu para
politisi yang didukung sosok kiai juga rajin turun kepada masyarakat melewati
pendekatan-pendekatan kultur dan tradisi yang ada di masyarakat semisal
pengajian, sholawatan dll. Politik kultur adalah cara yang sangat efektif untuk
mengambil hati masyarakat.
Eskalasi politik Bondowoso masih ditentukan oleh arah
dukungan tokoh-tokoh Pondok Pesantren khusunya di luar Kabupaten Bondowoso.
Yaitu Pondok Pesantren Nurul Jadid (Probolinggo), Wali Songo dan Salafiyah
Syafiiyah (Situbondo) yang ribuan santri dan alumninya merupakan masyarakat
Bondowoso. Sisanya ialah pondok pesantren yang kuantitas dan pengaruhnya lebih
kecil dibandingkan Pondok Pesantren tersebut diatas. Sebagai contoh Al-Maliki
(Koncer), Al-Falah (Cremee), Al-Islah (Dadapan) dan lain-lain. Artinya, secara
kemandirian politik Bondowoso masih tergantung dari dukungan luar Kabupaten.
Pesan untuk Stakeholder
Dengan hanya diikuti oleh dua Paslon, ada potensi konflik
ditataran akar rumput (grassroot). Dukungan masyarakat sama-sama besar terhadap
keduanya khususnya masyarakat Nahdliyin. Dengan tidak adanya paslon pemecah
suara maka potensi timbulnya ketidakpuasan terhadap hasil pemilu sangat tinggi.
Hal ini dapat berujung terhadap besarnya tuntutan yang memancing keributan
antar pendukung. Walaupun itu sebatas hanya spekulasi penulis saja, namun kita
sebagai masyarakat bondowoso tidak megharapkan demikian.
Dalam hal ini kedewasaan masyarakat dan peran stakeholder
adalah kunci kekondusifan serta kesuksesan pelaksanaan Pilkada Bondowoso.
Pilkada ini bukan lagi berbicara siapa yang lebih hebat dan lebih kuat antar
keduanya. Siapapun yang menang, itu merupakan kemenangan Masyarakat Bondowoso
juga. Beliau berdua bukan sekedar kader terbaik NU Bondowoso, bukan sekedar
sosok Kiai maupun didukung kiai, melainkan Putera Daerah yang sama-sama ingin
mengabdikan diri untuk memperbaiki Bondowoso. Satu kalimat sebagai kata kunci
untuk Bondowoso lebih baik yaitu Yakin Usaha Sampai. (*)





No comments