• Breaking News

    Gawat, DD Baru Saja Diterima 20 persen Peratin Sudah Berani Batasi Penggunaan Material


    Pembangunan Rabat Beton di Pemangku Sidung Sepanjang 250 Meter Melalui Dana Desa (DD) Hanya menggunakan Material Pasir Batu (Sirtu) yang di Kruk Langsung dari dasar Sungai dan  Langsung di Gunakan 

    Kejarfakta.com, Lambar- pembangunan jalan rabat beton sepanjang 250 meter di Pemangku Sidung Pekon Buai Nyerupa Kecamatan Sukau Kabupaten Lampung Barat (Lambar) terkesan asal jadi. 

    Pasalnya, material yang di gunakan hanya menggunakan pasir batu (Sirtu) dan dan bukan material standar proyek karena  bahan material yang digunakan hanya mengambil dari aliran sungai Way Rekuk dan hanya menghabiskan sebanyak 50 kubik sirtu dengan harga Rp. 230 ribu.

    Selain itu material semen yang digunakan dalam pembangunan itu hanya menghabiskan 125 sak saja serta plastik dasar sepanjang 250 dengan harga Rp 500 ribu, meter dan juga material papan hanya menghabiskan setengah kubik dengan harga Rp. 1800 ribu. Sementara pekerja pembantu berjumlah delapan (8) orang dan dua orang tukang dengan upah untuk pekerja pembantu sebesar Rp. 70 ribu per hari serta tukang Rp.100 ribu per hari.

    Hal tersebut di jelaskan Ketua RT setempat Samsu.,Minggu 10/06 2018  di lokasi pekerjaan
    Menurut ketua RT pihaknya megeluhkan cara Peratin setempat dengan membatasi penggunaan material seperti semen yang di jatah sebanyak 125 sak dan tidak boleh lebih dan dalam penerapan bangunan tersebut untuk adukan satu kubik sirtu tidak boleh lebih dari 3 sak semen. 

    Ketua RT itu menambahkan di kalkulasikan Jumlah total pengeluaran untuk pembelian material dan upah pekerja itu keseluruhan hanya Rp. 30.150,000  ribu. 

    “Bagai mana bisa bagus kalo semen aja di batasi, yah....namnya juga proyek pak semua sudah di potong yang pasti kita hanya menjalankan perintah peratin,” kata dia sembari tersenyum.

    Terlihat Jelas  material Situ yang di Aduk Semen dan Curahkan

    Pembatasan pemakaian material oleh Peratin tersebut juga di benarkan oleh Pemangku setempat Ahmadi, sebab dirinya telah menerima informasi terkait keluhan tersebut dari warga dan Ketua RT.

    “ Soal pembatasan penggunaan material semen itu benar adanya saya sudah menerima laporan warga dan ketua RT, padahal jika kita melihat pagu dana pembangunan itu terkesan fantastik karena dalam satu titik anggaranya mencapai Rp56 juta,” jelasnya Ahmadi.

    Terpisah Naser Pratin Buay Nyerupa menjelaskan untuk angran Dana Desa (DD) di pekon tersebut  mendapat kucuran dana sebesar Rp1,1 Milyar dan telah diterima sebesar 20 persen.

    Dijelaskan Peratin dana 20 persen yang dicairkan peratama itu, digunakan untuk kegiatan pembuatan tugu pembatas pekon dan jalan rabat dua titik yaitu di Pemangku Sidung dan Pemangku Negeri Ratu dengan volume jalan sama sepanjang 250 meter. 

    Ditambahkan Peratin tersebut, pihaknya meminta setiap awak media yang hendak melakukan peliputan pengerjaan proyek tersebut, diharapkan untuk menemuinya terlebih dahulu. “Maunya saya siapapun wartawan atau awak media yang akan meliput pekerjaan itu datang dulu temui saya,” cetusnya.


    Proses Pengerjaan Rabat Beton Dengan Menggunakan Material Yang Dibatasi Peratin Yaitu 1 Kubik Sirtu dengan 3 sak semen

    Menanggapi permasalahan tersebut, pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jaringan Pemberantas Korupsi (JPK) dalam hal ini di wakili oleh Heri Budiatio mengatakan. Dalapan penerapan bangunan tersebut di sinyalir adanya tindakan korupsi oleh oknum Peratin.

     “ Sementara jika di hitung rincincian  dari kegiatan tersebut, untuk pembelian sirtu perkubikya Rp230 ribu total keseluruhan jika di kali dengan 50 kubik keseluruhan Rp. 11.500 ribu, untuk semen 125 sak di kali Rp. 70 ribu brikut ogkos angkut kelokasi total Rp. 8750 ribu, Sementara ongkos tukag 10 hari di kali Rp. 100 ribu di kali dua orang total keseluruhan sebesar Rp. 2 juta dan untuk upah tenaga pembantu sebanyak 8 orang Rp. 70 perhari total Rp hanya menghabiskan dana Rp.560.000 ribu. 

    “Kalau di hitung anggaran pembangunan senilai Rp56 juta per titik maka itu tidak singkron dengan pengakuan RT dan kalkulasi di atas, karena satu titik hanya menghabiskan Rp. 30 juta.  sementara dengan dana 20 persen dari 1,1 milyar berarti mencapai Rp. 200 juta lebih dan sisa anggaran itu di apakan danj dikemanakan,” pungkas Heri.

    Heri Berharap pihak terkait segera turun lapangan, dan memantau kinerja peratin Buay Nyerupa tersebut serta memastikan kemaksimalan hasil pekerjaan itu. (red.Kejarfakta.com)

    No comments

    Post Top Ad