Destinasi Digital Pasar Wedana, Mengenal Keindahan Sukadana Tempo Dulu
Sukadana, Kejarfakta.com -- Pasar Wedana itu adalah sebuah
destinasi digital, yaitu destinasi wisata yang menjual kelebihannya, di lihat
dari sudut pandang tempat spot yang unik dan untuk pengunjung berbagai swaphoto
dan berphoto bersama seperti trend anak muda di era milenial saat ini, Sabtu
(17/11/2018).
Pasar Wedana ini mengambil tema zaman kewedanaan Sukadana,
sebagai romantisme untuk mengenal keindahan estetik seni rupa di kala itu,
dimana Sukadana adalah pusat Pemerintahan zaman kolonialisasi, multikultur/etnis,
dan pusat perniagaan, Banyak perjuangan merebut kemerdekaan serta hidup dalam
kemajemukan yang harmoni saat itu.
Pasar ini juga menjajakan kuliner dari potensi 25 pedagang
lokal yg menjual makanan dan minuman yang berbeda- beda, dan hanya di buka
setiap Sabtu sore jam 3 hingga malam, harapannya setiap Minggu ada tema
pertunjukan yang berbeda beda agar pengunjung terhindar dari jenuh atau bosan.
Pasar Wedana berada di lokasi exs pasar baru atau pasar
inpres di Sukadana pasar, hasil kerja sama antara Pemuda Karang Taruna dan
Genpi (generasi pesona Indonesia), Genpi adalah sekumpulan anak muda kreatif
yang peduli akan perkembangan pariwisata Indonesia yang mulai tumbuh di
Indonesia dari komunikasi di Dunia Maya.
Sejak launching yang dihadiri oleh Kementrian Pariwisata dan
Wakil Bupati Zaiful Bokhari, hari Ini sudah akan memasuki Minggu ke 4 Pasar
Wedana ini di buka.
Dengan terus berinovasi dan menambah wahana secara bertahap,
sambil menunggu pihak pihak yang ikut mendukung keberadaan tempat ini menjadi
lebih baik.
Minggu ini juga akan di gelar lomba Mural, Grafity dan
Beatbox serta Hip-Hop atau Rapp untuk menambah keindahan lokasi dan mencari
bibit calon pengisi panggung di setiap malam minggunya nanti.
Ada prioritas untuk potensi kokal, agar kreatifitas anak
mudanya trs mengalir, dan perekrutan pedagang pun begitu, agar geliat ekonomi lokal bisa tumbuh di
sekita Pasar tersebut.
Dalam konsepnya Pasar Wedana adalah pasar mandiri yang di
kelola oleh manajemen yang terus belajar, pertunjukan dan publikasi itu di hidupi
dari hasil pembayaran parkir dan kontribusi para pedagang, sehingga
mereka tidak kada ketergantungan, dan serius mengembangkannya menjadi rintisan
usaha atau bisnis yang di kelola oleh anak anak muda. (Diskominfo)






No comments