Rakornas Bank Sampah ke-5 : Revolusi Mental Pengelolaan Sampah Melalui Pelibatan Masyarakat Berbasis Bank Sampah.
Lambar,
Kejarfakta.com— Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Dan pertamanan (BLHKP)
Lampung Barat, telah mengikuti Rapat Koordinasi Nasional Bank Sampah ke-5 di
Hotel Grand Mercure, Kemayoran Jakarta, yang dihadiri oleh 800 peserta dari
perwakilan Bank Sampah, DLH provinsi dan kabupaten/kota, dunia usaha, perguruan
tinggi dan Asosiasi dari 365 kabupaten/kota dan 34 provinsi di Indonesia Tema
yang diambil dalam Rakornas Bank Sampah ke-5 ini adalah "Revolusi Mental
Pengelolaan Sampah melalui Pelibatan Masyarakat Berbasis Bank Sampah.
Hadir
dari Badan Lingkungan Hidup Kebersihan Dan pertamanan (BLHKP) Lampung Barat,
Kepala kantor BLHKP Lambar Syeakhuddin, Sekretaris BLHKP Lambar dan Kepala
Bidang AMDAL BLHKP Lambar Desmon Kurniawan.
Kepala
Bidang AMDAL BLHKP Lambar Desmon Kurniawan mendampingi Kepala kantor BLHKP
Lambar Syeakhuddin, ketika dihubungi kejarfakta.com menyampaikan apresiasi atas
di laksanakannya kegiatan tersebut dan akan mencoba mengikuti hasil dalam kegiatan
tersebut yang bisa di terapkan di Lambar, sesuai dengan tema rakornas “Revolusi
Mental Pengelolaan Sampah melalui Pelibatan Masyarakat Berbasis Bank Sampah “,
ujar Desmon.
Seperti
di kutip dari Pers Release Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Direktur
Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah Dan B3 Rapat Koordinasi Bank Sampah Ke-5
Hotel Grand Mercure, Jakarta, 3 Desember 2018 Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK) menggelar Rapat Koordinasi Nasional Bank Sampah ke-5 untuk
meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam menangani masalah
pengelolaan sampah.
Dirjen
Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati menjelaskan rakor
merupakan kegiatan rutin KLHK setiap tahun sebagai wadah komunikasi nasional
para pelaku Bank Sampah di seluruh Indonesia.
Para
peserta adalah pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, dunia usaha, dan
asosiasi yang bergerak dibidang lingkungan hidup, khususnya masalah
persampahan.
Vivien
menjabarkan ada sejumlah tujuan dari Rakornas Bank Sampah ke-5 ini. Pertama,
untuk memberikan dorongan terhadap peran serta masyarakat dalam mengelola
sampah dengan cara memilah dan mengolah sampah di sumbernya melalui mekanisme
Bank Sampah.
Kedua,
meningkatkan kapasitas Bank Sampah dalam hal pengelolaan sampah baik sampah
organik maupun sampah an organik. Ketiga, memperluas jejaring kerjasama Bank
Sampah dengan dunia usaha baik perbankan, sistem on line maupun sektor
industri.
"Isu
sampah merupakan isu nasional bangsa Indonesia, terutama kota-kota besar karena
timbulan sampah yang semakin bertambah seiring dengan meningkatnya pertumbuhan
jumlah penduduk, kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat
Indonesia yang ingin kepraktisan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berdampak
kepada semakin beragamnya jenis sampah yang dihasilkan," kata Vivien dalam
pembukaan Rakor, Senin (3/12/18).
Di
samping itu Vivien menambahkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat yang masih
rendah menyebabkan sampah belum dapat dikelola secara optimal disumbernya,
banyak sampah yang tercecer ke lingkungan dan berakhir di laut.
"70%
sampah di laut berasal dari daratan atau land based mangement. Sisanya 30%
berasal dari kegiatan di laut atau sea based management," sambungnya.
Vivien
menyebutkan timbulan sampah pada 2016 sebesar 65 juta ton dengan estimasi
timbulan sampahnya adalah 0,7 kilogram per hari. Adapun komposisi sampah nasional
didominasi oleh sampah organik sebesar 57%, sampah plastik sebesar 16%, dan
sampah kertas 10%, sisanya 17% adalah
sampah lainnya.
Dia
juga menyebutkan ada peningkatan timbulan sampah plastik pada 2013 sebesar 14%
menjadi 16% pada 2016. Ada pula penurunan timbulan sampah organik nasional dari
60% menjadi 57%.
"Hal
ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih suka menggunakan produk-produk dengan
kemasan sekali pakai seperti styrofoam, plastik sekali pakai atau produk-produk
dengan pembungkus sachet yang sulit untuk diolah," kata Vivien.
Ada
5 jenis sampah plastik yang mendominasi di lingkungan, yaitu kantong plastik
sekali pakai, PET botol, sedotan, strofoam dan suchet.
Sumber
utama sampah nasional yaitu 36% dari kegiatan rumah tangga, sehingga pendekatan
pengelolaan sampah harus dilakukan melalui pengelolaan sampah di sumbernya
berbasis partisipasi masyarakat. Caranya dengan membangun kesadaran masyarakat
untuk menerapkan prinsip 3R yakni reduce, reuse dan recycle melalui pembangunan
Bank Sampah di wilayah permukiman masyarakat.
"Bank
Sampah merupakan salah satu pendekatan pengelolaan sampah melalui partisipasi
masyarakat dengan memilah dan mengolah sampah di sumbernya atau social
engineering," tutur Vivien.
Pemerintah
memandang perlu untuk membangun mentalitas bangsa yang peduli terhadap lingkungan dan bertangung
jawab terhadap sampah yang dihasilkannya melalui Bank Sampah.
Sesuai
data KLHK pada 2017, jumlah Bank Sampah sudah mencapai 5.244 yang tersebar di
31 provinsi dan 218 kabupaten/kota dengan sampah terkelola terbanyak adalah
sampah plastik sebesar 40,79%, sampah terbesar kedua di bank sampah yaitu
sampah kertas sebesar 33,43%,
alumunium/besi/seng sebesar 21,74%, dan selebihnya adalah sampah logam, kaleng dan sampah lainnya.
Vivien
menyebut jika dilihat dari volumenya, Bank Sampah memberikan kontribusi terhadap pengurangan
sampah nasional sebesar 1,7% atau 1.389.522 ton per tahun dengan pendapatan
rata-rata sebesar Rp1,48 miliar per tahun. Menurutnya jumlah ini relatif masih
kecil namun optimis untuk terus ditingkatkan.
Dia
juga menambahkan bahwa untuk mengembangkan Bank Sampah di Indonesia harus
dilakukan secara terintegrasi untuk mengelola tidak hanya sampah anorganik,
tetapi juga sampah organik dan membangun jejaring serta koordinasi dengan
beberapa pemangku kepentingan yakni masyarakat, produsen, dunia usaha,
asosiasi, perguruan tinggi dan pemerintah, (Yogi.red.kejarfakta.com)





No comments