Sepenggal Aksi ACT Lampung Peduli Korban Banjir Katibung
Koordinator Relawan ACT Lampung Dewi Marisa (Kanan) Saat
Menyerahkan Bantuan Paket Makanan Kepada Istri Ketua RT 03 RW 013 Dusun
Kampungbaru, Desa Gotong Royong, Katibung, Lampung Selatan, Sabtu (1/12/2018)
Siang. Foto: ACT Lampung
Lampung Selatan,Kejarfakta.com --Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Lampung gerak cepat mengonsolidasikan penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan warga korban banjir di Desa Rangai Tritunggal dan Gotong Royong, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan (Lamsel), Sabtu (1/12/2018).
Meringankan beban para korban, dipandu gesit Koordinator Relawan ACT Dewi Marisa, bantuan paket makanan segera didistribusikan kepada ratusan warga terdampak di desa itu. Juga di RT 3 RW 013 Dusun Kampungbaru, Desa Gotong Royong.
Diketahui, terjangan banjir akibat curah hujan berintensitas tinggi sepanjang Kamis (29/11/2018) petang hingga Jum'at (30/11/2018) kemarin, telah merendam ribuan rumah, merusak saluran drainase dan irigasi teknis, serta melumpuhkan jalur transportasi di Katibung dan Kalianda, Lamsel.
Meski telah surut, residu endapan lumpur dan juga sampah cukup menganggu aktivitas warga.
Kepada para relawan ACT, salah satu korban, Diana, Kepala Sekolah SDN 1 Rangai Tritunggal, menceritakan saat Kamis malam banjir tiba-tiba merendam bangunan sekolahnya hingga sebatas pinggang orang dewasa. "Semua benda, dokumen yang letaknya sepinggang orang dewasa basah penuh lumpur," kata dia.
Akibatnya, ujar Diana, kegiatan belajar mengajar di sekolahnya praktis terpaksa diliburkan sementara dua hari ini. Warga sekolah, termasuk para muridnya fokus membersihkan sisa lumpur dan mengamankan sejumlah dokumen penting yang masih utuh.
"Agenda hari ini bersih-bersih kelas dan lingkungan, selain itu memilah barang dan arsip," jelasnya.
Diana menandaskan, sejak Jum'at kemarin kegiatan pembersihan residu banjir terkendala air belum surut, dan baru hari ini seluruh ruang kelas dan kantor sekolahnya bisa dibersihkan.
"Sekarang ruang kelas sudah bersih, tinggal bagian halaman (sekolah) ini (yang belum). Terima kasih teman-teman ACT mau mengunjungi kami," pungkasnya.
Pemandangan senada juga dijumpai di Dusun Kampungbaru, Desa Gotong Royong. Novita, salah seorang warga yang juga istri Ketua RT 3 mengatakan, banjir melanda perkampungan setelah hujan deras sejak Kamis sore.
Diakuinya, biasanya air hanya menggenang setinggi lutut orang dewasa. Banjir kali ini, meninggi sampai jendela rumah. Tak urung, warga bergegas menyelamatkan diri sambil memantau pergerakan air.
"Banjir lumayan besar, beda banget kali ini. Air campur lumpur merendam rumah-rumah warga, naik motor saja bisa goyang," kata Novita, sambil membungkus paket nasi dan lauk.
Sepenggal Aksi ACT Lampung Peduli Korban Banjir Katibung
Sementara, Koordinator Relawan ACT, Dewi Marisa menjelaskan, aksi pembagian kue dan paket makanan ditujukan memberi semangat kepada warga terdampak. Disamping relawan juga melakukan assesment dampak banjir dan kebutuhan warga terdampak.
Yang dibutuhkan kini, relawan yang membantu membersihkan sisa lumpur, bantuan peralatan tidur (kasur), paket pangan dan air bersih.
"Pantauan kami, aktivitas warga masih didominasi membersihkan sisa lumpur. Aksi hari ini masih awalan, nanti hasil assesment akan disampaikan ke masyarakat," tutupnya.
Terpisah, menanggapi dampak pascabanjir ini, Camat Kalianda Erdiansyah mengunggah pesan bijak di akun Facebook-nya, Sabtu malam.
Dikatakan dia, guyuran hujan lebat semalaman di sejumlah wilayah Kalianda mulai dari Agom, Gunungterang, Merak Belantung, Tajimalela, Canggu, Hara, Kedaton, Way Urang dan Kelurahan Kalianda, yang dilalui aliran sungai atau drainase berakibat banjir meluap.
"Alhamdulillah. Air cepat surut dan tidak ada korban jiwa, hanya kerugian material bangunan dan jalan semata," ujar Erdiansyah.
Hal tersebut, imbuhnya, menjadi introspeksi diri, (dimana) alam punya cara dan jalannya sendiri, manusia tidak bisa menghindar meski rekayasa konstruksi untuk mengendalikannya.
"Menjaga kelestarian alam. Tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak membangun di tepi sungai atau laut, tidak menghadang atau membelokkan atau mempersempit jalannya air, adalah di antara cara menjaganya," ucapnya berpesan.
"Yang utama, tak lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan kita semua dapat terhindar dari musibah. Amin," ajak alumnus Fakultas Hukum Universitas Lampung ini. [red/mzl]






No comments