Gus Yasin: Sekolah Harus Tanamkan Budi Pekerti
Semarang, Kejarfakta.com - Riuh tepuk tangan menggema di Aula Kaimana SMA
Nasima, Senin (7/1/18). Decak kagum hadirin pun terlontar ketika sejumlah siswi
SMA menampilkan tarian khas Aceh "Ratoh Jaroe." Gerak tangan yang
serempak dan enerjik dalam ritme cepat berhasil memukau hadirin. Tak hanya
tarian daerah asal serambi Mekah, tari Jawa Bali Dwipa juga ditampilkan secara
rancak oleh siswa-siswi SD Nasima.
Harmoni keberagamaan Nusantara memang menjadi fokus perhatian Sekolah
Nasima. Karena perhatian tersebut, Sekolah Nasima bahkan memeroleh anugerah
Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai sekolah pertama dengan tata ruang
bertema daerah-daerah di Indonesia yang terbanyak. Anugerah itu diterima oleh
Ketua Umum YPI Nasima Agus Sofwan Hadi saat menghadiri tasyakuran HUT ke-25
Sekolah Nasima.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengapresiasi langkah
Sekolah Nasima yang berkomitmen untuk senantiasa menjunjung semboyan pemersatu
bangsa "Bhinneka Tunggal Ika." Meski perbedaan adalah wujud rahmat
dari Allah SWT, namun masyarakat harus teguh bersatu, untuk menjamin tegaknya
NKRI.
"Terima kasih kepada YPI Nasima yang telah menanamkan pada anak
didiknya, pentingnya mengenal keberagaman di negara kita. Kita boleh berbeda,
karena perbedaan itu rahmat dari Allah SWT. Tapi, perbedaan itu harus dalam
kerangka tunggal ika," tegasnya.
Pria yang memiliki sapaan akrab Gus Yasin ini menjelaskan, upaya untuk
menjunjung persatuan dan kesatuan dalam keberagaman dapat diteladani dari kisah
Nabi Muhammad SAW. Rasulullah berjuang mempersatukan dan membangun kerukunan di
negara Arab, meski penduduknya memeluk keyakinan yang berbeda. "Nabi
Muhammad SAW mengokohkan negaranya karena meskipun banyak agama, suku, dan ras
disatukan dengan Bahasa Arab. Juga ada Piagam Madinah," jelasnya.
Putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu menerangkan, tanggung
jawab besar yang diemban setiap institusi pendidikan saat ini adalah menanamkan
budi pekerti pada anak didiknya. Gus Yasin ingin, pelajar Sekolah Nasima
memahami tata krama dan menghormati orang yang ada di sekelilingnya.
Menurutnya, tata krama dapat dipelajari. Salah satunya dengan memahami Bahasa
Jawa.
"Saya beberapa kali berinteraksi dengan orang barat maupun orang
timur. Saya mempelajari Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, tapi saya belum bisa
menemukan pendidikan karakter yang kuat di dalam bahasa, kecuali Bahasa Jawa.
Bahasa Jawa sangat santun karena mengajarkan tata krama saat kita bertutur kata
dengan orang tua," terangnya.
Mantan anggota DPRD Provinsi Jateng itu juga ingin agar pelajar di
Sekolah Nasima nantinya menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki jiwa
sosial. Untuk memupuk kepedulian, mereka dapat turut serta dalam kegiatan
sosial, seperti menyantuni anak yatim.
"Di dunia pendidikan yang mengedepankan akhlak atau karakter, kita
harus menanamkan jiwa sosial. Contohnya dengan menyayangi anak-anak yang
membutuhkan, seperti anak yatim yang tidak lagi memiliki orang tua. Ini
memberikan pelajaran kepada anak-anak kita untuk menumbuhkan jiwa sosial
mereka," ujarnya.
Gus Yasin juga berharap, Sekolah Nasima dapat mengajarkan materi
tentang penanggulangan bencana. Mengingat beberapa wilayah di Tanah Air,
termasuk Jawa Tengah, merupakan daerah rawan bencana. "Saat ini banyak
daerah yang mengalami kemarau panjang dan bencana lainnya. Saya harap di
sekolah Nasima ke depan menyisipkan materi tentang penanggulangan
bencana," harapnya.
(Red/Humas Jateng)






No comments