Menyampaikan Aspirasi di depan Kantor Lama Bupati Tapsel, Massa dibubarkan Oknum yang tidak Bertanggungjawab
Aksi di depan Kantor Lama Bupati Tapsel.
Padang Sidempuan, Kejarfakta.com -- Aliansi Mahasiswa
Pejuang Rakyat (Ampera) dan Jaringan Aliansi dan Gerakan Mahasiswa Pemuda Untuk
Perubahan (Jalan Gempur) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli
Keadilan melakukan aksi unjuk rasa memyampaikan pendapat di muka umum di Depan
Kantor Bupati lama, Tapanuli Selatan (Tapsel) di Jalan Kenanga Kota Padang Sidempuan.
Dalam aksinya,
Mahasiswa dan Pemuda nampak membentangkan spanduk yang bertuliskan
"Pak Bupati Kapan Pindah? Kalau Tidak Mau, Berikan Saja Rumah Dinas Baru
Itu Pada Rakyat Miskin".
Pada saat yang sama terlihat lokasi sedang ramai, karena
persiapan pesta pernikahan Putri Bupati Tapanuli Selatan di Rumah Dinas Jabatan
Bupati Tapsel tepatnya di belakang Kantor Bupati lama.
Selang beberapa menit setelah massa aksi membentangkan
spanduk di pinggir jalan sambil membagikan selebaran pernyataan sikap kepada
pengguna Jalan, nampak beberapa orang menghampiri massa, meminta agar aksi
tersebut dibubarkan saja karena sedang ada persiapan pesta pernikahan anak
Bupati dan dianggap akan membuat malu Bupati.
Massa di kerumuni oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Mendengar hal tersebut salah satu koordinator, Wirman
Nasution merespon dengan menyetujui permintaan tersebut. Tapi salah satu oknum
yang tidak senang dengan aksi terbut nampak marah-marah dan membentak massa
aksi dengan mengatakan "Alak son do au, ulang kamu mambaen keributan
dison'" (saya orang sini, jangan kalian membuat keributan disini: red).
Terlihat dari aksi tersebut, Mardan Eriansyah Siregar
wartawan Kejarfakta.com saat meliput sempat didorong oleh beberapa orang
berpakaian preman agar segera membubarkan aksi tersebut. Padahal Wartawan
tersebut mau melerai massa yang di bentak-bentak oleh oknum yang tidak
bertanggungjawab itu.
Dari pantauan Media dilapangan terlihat bahwa penolakan aksi
tersebut dilakukan oleh beberapa orang yang sebelumnya berada dilokasi dan
bukan berasal dari aparat kepolisian Polres Padang Sidempuan.
Saat ditemui, Wirman Nasution yang merupakan Ketua Jalan
Gempur mengungkapkan kekesalan dan kekecewaannya kepada oknum yang membubarkan
aksi mereka. "Kami kan sudah buat pemberitahuan beberapa hari sebelumnya,
dan hari ini juga terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian (intelkam: red),”
ujarnya.
Aksi ini awalnya direncanakan ramai dan ada orasi
menggunakan sound system. “Tapi karena kami dapat info disana sedang ramai, hal
tersebut kami urungkan dan hanya diikuti oleh beberapa orang dengan maksud
hanya membentangkan spanduk dan membagi selebaran pernyataan sikap Itu juga
dibubarkan paksa. Yang bubarkan pun bukan polisi. Kan aneh," ungkapnya .
Pengalihan titik aksi, persimpangan tiga, Padang Matinggi
Dalam aksi tersebut mereka bermaksud meminta Bupati Tapsel
agar menempati rumah dinas jabatan barunya yang telah selesai dibangun beberapa
tahun lalu di komplek perkantoran pemda di sipirok.
"Kita minta Bupati agar menempati rumah dinasnya di
Sipirok, Tapsel. Itu kan sudah lama siap, udah beberapa tahun masih juga belum
di huni. Kalau Bupati terus-terusan tinggal di Sidempuan, itu rumah dinas yang
baru bakal hancur. Lagian disanakan lebih dekat ke kantor, masa Bupati Tapsel
terus-terusan tinggal di Kota Orang? Tambah boros jadinya biaya pengawalan
Bupati bolak-balik Sidimpuan Sipirok. Lagian kalau mau tinggal di Sidimpuan kok
jadi Bupati Tapsel? Kenapa nggak nyalon jadi Walikota aja kemaren? agak aneh
juga ini Pak Bupati kita,” cetus pria yang akrab dipanggil Bob ini.
Setelah mendapat perlawanan dari oknum yang tidak mereka
kenal tersebut, nampak mereka membubarkan diri dan melanjutkan aksinya dengan
memasang spanduk dan membagikan selebaran di Simpang Empat Silandit, Padang
Matinggi.
Sarif Muliadi Musannif Nst, Ketua Ampera mengatakan, hal
tersebut sebagai pengalihan titik aksi mereka, karena telah dibubarkan paksa di
lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya.
"Disana ada perlawanan dari preman, tapi aksi kami ini
tetap kami lanjutkan. Dan akan terus kami lakukan setiap pekan, sampai Bupati
Tapsel menempati rumah dinasnya yang baru, di sipirok." tuturnya.
"Kami hari ini di cekal, di bentak, dan dibubarkan
paksa oleh mereka yang katanya sanak-family Bupati tadi. Kami minta agar Polres
Padangsidimpuan menindak oknum yang telah menghalangi proses demokrasi tadi.
Dia itu bukan Polisi, masa nyuruh-nyuruh bubar? Ngancam mau nikam kawan kami
juga tadi itu,” kata dia lagi. (Cing Siregar/Red)







No comments