Negara-Negara APO Bahas Dampak Teknologi Disrupsi
Negara-negara APO Bahas Dampak Teknologi Disrupsi
Jakarta, Kejafakta.com -- Negara-negara yang tergabung dalam
Association Productivity Organization (APO), membahas dampak terjadinya teknologi disrupsi
(disruptive technologies), yang membawa pengaruh bagi sektor ketenagakerjaan
dan tingkat produktivitas kerja.
"Contoh sederhana, disrupsi membuat perubahan cara-cara
berbisnis yang dulunya sangat menekankan owning(kepemilikan) menjadi sharing
(saling berbagi peran, kolaborasi resource), " kata Dirjen
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Dirjen Binalattas)
Kemnaker Bambang Satrio Lelono dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur
Produktivitas M. Zuhri di Jakarta, Selasa (26/3/2018).
Asian Productivity Organization (APO) merupakan organisasi
regional antar pemerintah dengan tujuan memberikan kontribusi terhadap
pembangunan social ekonomi di kawasan Asia Pasifik melalui pengembangan
produktivitas. Keanggotaan APO bersifat terbuka untuk seluruh pemerintah
dikawasan Asia dan Pasific.
Sebanyak 20 negara anggota APO antara lain Bangladesh, Cambodia,
Republic of China, Fiji, Hong Kong, India, Indonesia, Iran, Japan, Korea, Lao
PDR, Malaysia, Mongolia, Nepal, Pakistan, Philippines, Singapore, Sri Lanka,
Thailand dan Vietnam.
Zuhri mengatakan saat ini teknologi disrupsi telah meluas
mulai dari pemerintahan, ekonomi, hukum, politik, hingga penataan kota,
konstruksi, pelayan kesehatan, pendidikan, kompetisi bisnis dan juga
hubungan-hubungan sosial. Bahkan konsep marketing pun saat ini sudah
terdisrupsi.
Negara-negara APO Bahas Dampak Teknologi Disrupsi
“Ada lima hal penting dalam memahami disrupsi. Pertama
disrupsi berakibat penghematan banyak biaya melalui proses bisnis menjadi lebih
simpel. Kedua, membuat kualitas apapun yang dihasilkan lebih baik dibandingkan
sebelumnya,
“ kata Zuhri.
Ketiga, kata Zuhri disrupsi berpotensi menciptakan pasar
baru, atau membuat mereka yang selama ini tereksklusi menjadi ter-inklusi,
membuat pasar pasar yang selama ini tertutup menjadi terbuka. Keempat,
produk/jasa hasil disrupsi ini harus lebih mudah diakses atau dijangkau oleh
para penggunanya.
"Kelima, disrupsi membuat segala sesuatu kini menjadi
serba lebih pintar, lebih menghemat waktu an lebih akurat. Ini menjadi
tantangan bagi sektor ketenagakerjaan dan tingkat produktivitas, "
katanya.
"Kami berharap forum ini dimanfaatkan semaksimal
mungkin untuk lebih memperkaya pemahaman pemikiran dan pengalaman dari berbagai
negara dan dijadikan referensi bagi langkah-langkah yang akan kita inisiasi dan
implementasi, " ujar Zuhri.
Zuhri menegaskan melalui forum tersebut diharapkan mampu
menyamakan pemahaman tentang disruptive technologies yang merupakan perubahan
teknologi digital mutakhir dan lebih efisien dan sebagai ajang pertukaran
informasi mengenai pengaruh disruptive technologies di pemerintahan, bisnis,
pendidikan dan hubungan-hubungan sosial serta berbagi gagasan dan mendiskusikan
perubahan dalam proses usaha.
"Diharapkan lewat forum ini juga dapat membantu negara
anggota mempersiapkan diri menghadapi disruptive technologies melalui pengembangan
rencana aksi nyata dan penerapannya oleh peserta, " ujarnya.
Forum on Disruptive Technologies and Technology-dryven
Productivity dihadiri oleh APO Program Officer Polchate Kraprayoon dan 80
peserta forum. Sebanyak 30 peserta merupakan delegasi dari negara anggota APO
dan 50 peserta lokal dari berbagai instansi di Indonesia.
Lima narasumber utama dalam forum adalah Prof. Naohiro
Shichijo (Jepang), Silawat Tao Santivisat (Thailand), William Douglas Beynon
(Kanada), Sarath Davala (India) dan Joseph Lew (Singapura).






No comments