Kapolri: Viralkan Pernyataan Aman Abdurrahman Dalam Sidang, di Nilai Penting Untuk Meredam Aksi Teror
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/1/2018)(KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA)
Kejarfakta.com, Jakarta- Pernyataan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam persidangan. Diminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavia agar diviralkan. Dimana pada saat itu Aman menyatakan bahwa hanya orang sakit jiwa yang menamakan serangkaian teror di Surabaya sebagai jihad.
"Tolong nanti viralkan pernyataan Aman Abdurahman di sidang," ujar Kapolri di Mapolda Jambi, Jumat (26/5/2018).
Oman Rochman alias Aman Abdurrahman mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5/2018). Sebagai Terdakwa kasus dugaan serangan teror bom Thamrin Sidang lanjutan tersebut mengagendakan pembacaan pledoi dari terdakwa dan penasehat hukumnya.
Penyataan Aman Abdurahman di nilai Kapolri sangat penting untuk meredam aksi teror seperti yang terjadi di Surabaya yakni melakukan bom bunuh diri di Gereja, bahkan melibatkan anak-anak.
Orang yang Namakan Bom Surabaya sebagai Jihad Sakit Jiwanya Tito percaya hal itu karena Aman Abdurahman adalah pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang diduga sebagai dalang bom Surabaya dan aksi teror di sejumlah daerah.
"Amman Abdurahman menyampaikan bahwa melakukan serangan kepada orang kafir, termasuk umat Nasrani, sepanjang dia tidak menggangu tidak boleh dan haram, berdosa, apalagi melakukan bom bunuh diri, membawa anak, itu masuk neraka. Itu bukan kata saya," kata Kapolri.
Hanya orang-orang sakit jiwa yang menamakan serangkaian teror tersebut sebagai jihad. Dua kejadian (teror bom) di Surabaya itu saya katakan, orang-orang yang melakukan, atau merestuinya, atau mengajarkan, atau menamakannya jihad, adalah orang-orang yang sakit jiwanya dan frustrasi dengan kehidupan," ujar Aman.
Aman menyampaikan, aksi bom bunuh diri yang dilakukan ibu dan anaknya di sebuah gereja di Surabaya terjadi karena pelakunya tidak memahami tuntunan jihad.
"Kejadian dua ibu yang menuntun anaknya terus meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang yang memahami ajaran Islam dan tuntutan
jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya," kata dia.(ist)
Sumber : Kompas.com





No comments